MANAJEMEN WAKTU

Pengetahuan, keterampilan dan sikap adalah tiga kompetensi yang seharusnya dimiliki setiap orang. Terutama dalam bidang pekerjaan, semua bidang pekerjaan pasti membutuhkan setiap individunya mampu mengerjakan sesuai dengan kemampuannya. Maka dari itu, tiga kompetensi tersebut dapat diperoleh dengan Manajemen Waktu yang tepat.

 

Manajemen Waktu adalah bagaimana anda mencari kombinasi paling tepat untuk porsi pekerjaan, relationship, hobi, lifestyle, keluarga, dan lain-lain.

Dan tentunya Manajemen waktu bukanlah “anugerah” yang kita dapatkan sejak lahir, namun ini merupakan suatu keterampilan yang bisa anda pelajari.

 

Banyak orang yang beranggapan skill dan knowledge adalah hal yang sama.

 

Skill/keterampilan/keahlian adalah kebisaan seseorang untuk melakukan sesuatu yang spesifik, fokus namun tetap berfungsi.

Pada dasarnya, keterampilan apapun dapat dipelajari dan membutuhkan waktu tertentu serta dedikasi yang tinggi untuk memperolehnya.

Misalnya dengan semangat, motivasi, mental positif, waktu dan terkadang uang.

 

Sedangkan Knowledge/pengetahuan adalah kemampuan seseorang mengenali suatu keadaan berdasarkan persepsi pikirannya.

Pengetahuan seseorang didapatkan dari berbagai macam sumber, misalnya dari bahan bacaan, lingkungan pergaulan, pekerjaan dan sebagainya.

 

Mempelajari dan mengembangkan skill dan knowledge tentunya membutuhkan Motivasi. Motivasi adalah suatu dorongan atau keinginan yang membuat seseorang melakukan suatu perbuatan untuk mencapai tujuan tertentu.

 

Di dalam dunia pekerjaan apa yang menjadi motivasi anda bekerja? Sebagian besar pasti akan menjawab karena membutuhkan uang. Sehingga uang akan menjadi motivasi anda bekerja. Namun motivasi tersebut tidak dapat anda capai apabila anda tidak mempunyai keahlian/ketrampilan (skill), pengetahuan (knowledge) dan sikap (attiude) yang positif.

 

Manajemen Waktu tidak hanya dibutuhkan dalam dunia pekerjaan. Di dalam kehidupan sehari-hari pun seharusnya kita semua dapat menggunakan sistem manajemen waktu demi kenyamanan dan keseimbangan hidup.

 

Jika anda dapat menyeimbangkan waktu, maka konsenterasi, produktifitas meningkat dan yang terpenting tingkat stress anda berkurang.

 

 

Mengapa Manajemen Waktu menjadi prinsipil dalam Pernikahan?

 

Pernikahan adalah lembar kehidupan baru bagi pasangan yang baru menikah. Pernikahan bukanlah hanya sekedar anda dan pasangan tinggal satu atap. Tetapi bagaimana anda dan pasangan tetap bersama dalam melewati suka dan duka.

 

Banyak kasus perceraian terjadi disebabkan oleh pasangan suami istri yang tidak mempunyai waktu bersama, bahkan anak-anak menjadi terlantar karena kesibukan ke dua orang tuanya.

 

Mengatur waktu secara rapih dan efektif bukanlah pekerjaan yang mudah apalagi berupaya untuk mentaatinya secara konsisten dan persisten.

 

Dalam 1 hari hanya terdiri dari 24 jam, dan 7 hari dalam 1 minggu. Sebanyak apapun yang harus dilakukan, waktu tetap terbatas dan manusia pun mempunyai keterbatasan.

Oleh karena itu, kita harus menentukan “prioritas”.

 

Disini saya akan berbagi pengalaman pribadi saya yang mungkin dapat menjadikan suatu contoh yang bermanfaat.

 

Sekedar info, saya adalah seorang pekerja kantoran sejak sebelum dan sesudah menikah. Saya pun tetap bekerja setelah mempunyai seorang anak perempuan. Anak saya diasuh oleh seorang baby sitter selama kurang lebih 3 tahun.

 

Dari awal kehadiran anak dalam pernikahan kami, kebetulan saya bukan tipe ibu yang telaten mengurus anak. Semua saya percayakan kepada baby sitter. Begitu beruntungnya saya memiliki baby sitter yang sangat kompeten.

 

Tiga tahun berlalu, banyak hal-hal dalam kehidupan terjadi. Saya dihadapi cobaan dalam pekerjaan yang mengharuskan saya untuk berhenti diperusahaan yang baru saja membuat karir saya menanjak pesat pada saat itu. Baby sitter yang paling saya andalkan memutuskan untuk menikah dan tidak bekerja lagi.

 

Pada saat itu saya masih menjadi ibu yang egois, yang mengutamakan karir dan berupaya mencarikan pengganti pengasuh untuk anak saya. Sampai suatu ketika situasi yang membuat saya pasrah dan sadar akan tugas serta kewajiban saya sebagai istri dan ibu.

 

Saya dihadapi dalam sebuah situasi dimana saya harus menjadi ibu rumah tangga yang sesungguhnya. Mengurus rumah, anak, memasak, antar jemput sekolah, semuanya secara mendadak selama 5 tahun pernikahan saya dan 3 tahun terakhir sejak saya mempunyai anak.

 

Bagi ibu-ibu bekas pekerja kantoran, stress yang anda terima sebagai ibu rumah tangga sesunguhnya jauh lebih tinggi.

 

Bayangkan, biasanya saya bangun pagi, hanya mengurus diri trus berangkat kerja, lalu pulang sore/malam, selesai. Sekarang saya tetap harus bangun pagi, memasak, memandikan anak, menyuapi, antar anak sekolah, mengurus rumah dan seterusnya tanpa bantuan siapapun, sampai mengurus diri aka mandi, makan pun terlupakan.

 

Kebetulan dalam sejarah kehidupan lingkungan pekerjaaan saya terlatih menerapkan sistem “time management” (Manajemen Waktu).

 

Tidak ada salahnya saya terapkan dalam dunia saya sekarang yaitu dunia ibu-ibu rumah tangga. Dan percaya atau tidak? But It works!

 

Saya sama seperti manusia pada umumnya. Mudah marah kalau capek dan lapar. Bagaimana dapat melakukan semua aktifitas rumah tangga kalau saya sendiri tidak ter-urus?

 

Pertama-tama planning/rencanakan setiap detail yang akan dilalui setiap harinya. Kalau saya, tidak tertulis, secara saya pengingat dan lumayan multitasking, jadi saya biasanya merencanakan diwaktu senggang, kapanpun ide-ide itu muncul dipikiran saya. 

Dan kalaupun hari-hari sedang hectic, khawatir terlewatkan saya gunakan smart phone untuk mengingatkannya, seperti alarm atau notes.

 

Detail-detail rencana yang sudah dibuat, akan mengalir mengikuti alurnya setiap harinya. Saya tinggal menyesuaikan jadwal-jadwal tambahan yang ada setiap harinya.

 

Dengan padatnya aktifitas yang menguras energi, saya selalu meyempatkan diri untuk istirahat dengan tidur. Saya dan suami biasa memakai istilah “Power Nap”. Dimana kita tidur tidak harus dalam jangka waktu berjam-jam….15-30 menit waktu yang sangat berharga untuk badan dan otak kita rileks.  Kembali melanjutkan aktifitas selanjutnya dengan jauh lebih bertenaga dan rileks.

 

Salah satu isi dari planning detail yang saya buat, selain mengurus kebutuhan rumah tangga, anak dan suami, saya selalu meluangkan waktu untuk “me time”. Apapun yang ingin saya lakukan seperti bersosialisasi, nyalon atau sekalipun hanya dirumah tapi dijauhkan dari hal-hal yang berbau pekerjaan harian saya, yaitu sesuai dengan istilahnya “me time” yang artinya “waktunya saya”.

 

Kesadaran akan pentingnya arti dari suatu ikatan pernikahan tidaklah saya dapat dari orang lain namun dari diri kita sendiri. Betapa pentingnya komitmen saya dengan suami akan menentukan nasib kami dimasa depan.

 

Empat belas tahun berlalu…. setelah dihadapi dengan berbagai situasi yang mengharuskan saya menentukan prioritas, yaitu keluarga.

 

Keahlian saya dengan mengatur waktu, mengenali suatu keadaan tertentu dengan penuh kepercayaan diri serta pikiran yang positf, menjadikan kenyamanan dan kebahagian tersendiri.